Kritik terhadap Guru dan Siswa yang Membuat Konten TikTok Ditinjau dari Aspek Budaya, Sosial, Psikologis, dan Agama

 Kritik terhadap Guru dan Siswa yang Membuat Konten TikTok Ditinjau dari Aspek Budaya, Sosial, Psikologis, dan Agama





Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah. Tidak sedikit guru dan siswa yang membuat konten TikTok bersama maupun secara individu. Meskipun media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan kreativitas, penggunaan yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai persoalan dari aspek budaya, sosial, psikologis, dan agama.

Dari aspek budaya, fenomena guru dan siswa yang aktif membuat konten TikTok perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi nilai-nilai budaya yang berlaku di lingkungan pendidikan. Sekolah merupakan tempat yang menjunjung tinggi sopan santun, etika, dan penghormatan kepada guru. Apabila konten yang dibuat terlalu mengedepankan hiburan tanpa memperhatikan norma kesopanan, maka dikhawatirkan dapat mengurangi wibawa guru dan mengaburkan batas hubungan antara guru dan siswa. Selain itu, tren yang diikuti sering kali berasal dari budaya populer yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal dan karakter bangsa Indonesia.

Dari aspek sosial, penggunaan TikTok oleh guru dan siswa dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana komunikasi dan kreativitas. Namun, di sisi lain, kebiasaan membuat konten secara berlebihan dapat memunculkan perilaku mencari popularitas dan pengakuan dari orang lain. Tidak jarang seseorang lebih fokus pada jumlah penonton, suka, dan komentar dibandingkan pada tugas utama sebagai pendidik atau pelajar. Selain itu, konten yang kurang pantas dapat menimbulkan kritik dari masyarakat dan mencoreng citra sekolah sebagai lembaga pendidikan.

Dari aspek psikologis, penggunaan TikTok secara berlebihan dapat memengaruhi kondisi mental guru maupun siswa. Keinginan untuk mendapatkan banyak perhatian dapat menimbulkan ketergantungan terhadap media sosial. Ketika konten tidak mendapatkan respons yang diharapkan, seseorang dapat merasa kecewa, cemas, atau kurang percaya diri. Bagi siswa, hal ini berpotensi mengganggu konsentrasi belajar karena perhatian lebih banyak tertuju pada pembuatan konten dibandingkan kegiatan akademik. Sementara itu, guru yang terlalu fokus pada aktivitas media sosial juga dapat mengalami penurunan fokus terhadap tanggung jawab profesionalnya.

Dari aspek agama, setiap aktivitas hendaknya dilakukan dengan memperhatikan nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan agama. Dalam Islam, misalnya, seseorang dianjurkan menjaga kehormatan diri, berkata dan berperilaku baik, serta menghindari tindakan yang dapat menimbulkan fitnah atau mudarat. Jika konten TikTok yang dibuat mengandung unsur pamer berlebihan, candaan yang tidak pantas, atau mengabaikan kewajiban sebagai guru dan siswa, maka hal tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai agama. Sebaliknya, media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan hal-hal yang bermanfaat, edukatif, dan menginspirasi.

Selain itu, guru dan siswa perlu memahami bahwa media sosial merupakan alat yang harus digunakan secara bijak. Setiap konten yang diunggah dapat dilihat oleh banyak orang dan menjadi cerminan karakter pribadi maupun institusi sekolah. Oleh karena itu, sebelum membuat atau membagikan konten, perlu dipertimbangkan manfaat, dampak, serta kesesuaiannya dengan norma yang berlaku. Penggunaan media sosial yang bertanggung jawab akan membantu menciptakan lingkungan digital yang sehat dan mendukung proses pendidikan.

Dengan demikian, fenomena guru dan siswa yang membuat konten TikTok tidak dapat dinilai sepenuhnya baik atau buruk. Kritik utama yang perlu disampaikan adalah pentingnya penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab. Guru dan siswa harus mampu menjaga etika, norma budaya, hubungan sosial yang sehat, kesehatan psikologis, serta nilai-nilai agama dalam setiap aktivitas di media sosial. Dengan sikap yang tepat, media sosial dapat menjadi sarana yang bermanfaat tanpa mengurangi tujuan utama pendidikan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI

Tantangan implementasi berbasis teknologi

Mengenal cerita diriku